5 november 2014,
Sudah satu bulan lima hari kau meninggalkan kami untuk menghadap Ilahi.
Seperti mendapat sebuah firasat, malam itu aku benar-benar tak bisa memejamkan mata untuk tidur. Pikiranku pun tak menentu arah. Dari selesai shalat isya, aku hanya memainkan gadgetku, entah apa saja yang ku lihat digadget.
Pukul 22.00 Wib. Mataku tak kunjung menunjukkan adanya tanda mengantuk. Aku telah berpikiran negatif, tapi segera kutepis semua pikiran negatif itu.
Pukul 23.05 Wib. Aku mencoba memaksa untuk tidur. Tetap saja mataku bagaikan sudah beristirahat 8 jam, segar sekali. Aku kembali membuka gadgetku, aku buka akun facebook-ku. Aku membuka foto-foto lama di sana. Setelah nya aku kembali scroll beranda, betapa terkejutnya aku melihat status dari seorang teman yang mengatakan kau telah tiada. Aku benar-benar merasa bagai mimpi, berkali-kali aku membacanya dan tetap itu adalah namamu.
Aku tak menangis, teman. Hatiku membeku. Tubuhku gemetaran. Seketika aku sadar, aku hubungi semua terdekat kita. Mereka semua tak percaya, sama sepertiku. Saat itu, di Baturaja hanya aku yang ada diantara kita bersembilan.
Dan aku tak tertidur barang satu detikpun, teman. Aku terus menunggu pagi datang, karena aku ingin segera bertemu denganmu dan memastikan bahwa itu hanya mimpi.
Kenyataan berkata lain, ketika aku datang kerumahmu aku melihat bendera kuning dan banyak orang datang kerumahmu. Dengan badan gemetar aku masuk kerumahmu, saat aku melihat yang terbaring itu adalah benar dirimu, tangisku pecah tak tertahan lagi. Ternyata aku, kami, sedang tidak bermimpi.
Kupeluk erat mamamu, ia begitu tegar, teman.
Aku melihat senyummu. Senyum keikhlasan. Kau begitu cantik, walaupun bekas penyakitmu masih tampak ketika itu.
Penyakit LUPUS. Itulah "teman" mu. Terbayang ketika pertama kali kau memberitahuku tentang sakitmu. Aku bahkan menangis membayangkanmu. Aku sangat tau pribadimu. Kau sosok yang ceria, semangat, baik, aktif, perhatian. Itulah yang membuat kami tak percaya kau mengidap lupus.
Taukah kau, teman? Aku sebenarnya agak ragu ingin menjadi seorang dokter. Ketika kau dinyatakan lupus, aku bertekad untuk menjadi seorang dokter. Aku ingin menemukan obat dari penyakit jahat itu. Memang tidak ada satupun orang yang tau tentang keinginanku itu kecuali aku dan Tuhan.
Kalaupun aku tau kau akan pergi secepat ini, mungkin aku akan mengungkapkan keinginanku kepadamu, aku akan memohon kau bersabar untuk menunggu sebentar sampai aku menemukan obatnya.
Tapi Tuhan berkata lain. Dia lebih menyayangimu dibandingkan kami.
Maafkan aku, teman. Aku tau di akhir-akhir perjuanganmu melawan lupus, kau sempat mengeluhkan kurangnya perhatian kami. Maafkan aku karena seolah tidak tau kau sedang kesakitan. Maafkan aku karena aku sedang memikirkan sesuatu yang rumit dihidupku sehingga lama tak menanyakan keadaanmu.
Maafkan aku...
Terlintas dipikiranku,
Apa rasanya pertemuanmu dengan malaikat Israil, teman? Setiap kali aku membayangkan rasanya, aku merinding dan gemetar.
Senyummu, cukup menunjukkan bahwa saat kau dijemput malaikat Israil kau ikhlas merelakan nyawamu berpisah dengan ragamu.
Tahun ini, adalah tahun terakhir kita merayakan ulang tahunmu bersama-sama. Sudah 5 kali ulang tahunmu kita rayakan bersama.
Teman,
Seandainya kita dapat bertemu dalam mimpi, aku ingin kau mengajarkanku arti sebuah keikhlasan. Ikhlas, seperti senyum terakhirmu.
Ciuman dikeningmu dan senyum terakhirmu tidak akan pernah kulupa sampai saatnya kita dipertemukan dan dikumpulkan kembali di Jannah-Nya kelak.
Aku menyayangimu,
Ufara Nurullah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar