Kali ini logikaku tak mampu mencerna kalimat yang dibuat oleh otakku sendiri. Bahkan, hati pun tak mampu untuk menolaknya. Apa yang terjadi? Mengapa hal ini mampu membuat hati dan logika kompak untuk mempertahankan?
Kurasa ada sesuatu hal jahat yang mempengaruhi diri ini, apa itu? Mungkin saja pengaruh itu disebut dengan ego. Ego yang telah dicoba berkali-kali diredam dan berkali-kali juga dia berusaha memperkosa logika. Yang terjadi hanyalah ketidakberdayaan untuk melepas walaupun dengan segala keberanian aku mencobanya.
Aku, hanyalah sepotong daging yang disempurnakan dengan nyawa dan akal. Aku tak mungkin lepas dari perputaran takdir yang digerakkan Tuhan. Dan aku juga bukan makhluk Tuhan yang seutuhnya bisa menuruti dan menerima sepenuhnya titah Tuhan. Imanku belum mampu menguasai sepenuhnya logika dan hati.
Ambisi. Itulah nama pemberontak dihati dan logikaku. Semakin aku berusaha menghindar, semakin ia mengepung dan menyiksa bathinku. Kadang aku berpikir, untuk apa mempunyai ambisi besar namun tak pernah didukung oleh pendukung utama dikehidupanku?
Terlintas tanya, bukankah ambisi ini Tuhan juga yang mencipta dan membuat sarangnya dihatiku? Tapi mengapa jalan yang diberi itu terasa buntu? Apakah ambisi ini akan terwujud sebelum waktu perjanjianku menemui Tuhan akan ditepati? Kalaupun takdir itu mengatakan aku tak bisa mencapainya karena aku telah dipanggil-Nya, aku hanya bisa berharap Malaikat Israil berbaik hati untuk menunda tugasnya menjemputku hingga tunai sudah ambisi terbesarku nanti.