Satu kali lagi aku berusaha untuk berpikir positif
Satu kali lagi aku belajar untuk tidak menumpahkan airmataku
Satu kali lagi aku belajar untuk menguasai ego
Satu kali lagi aku belajar untuk kembali berdiri dari jatuh..
Saat ini adalah saat dimana aku bahkan tidak mampu untuk menangis untuk meluapkan emosiku. Hatiku benar-benar terkurung oleh rasa tak berdaya dan memilih menjerit dalam diam lagi. Aku tak kuasa untuk sekedar menjatuhkan setetes airmataku. Aku berusaha untuk menelan lagi pil pahit di hidupku. Aku berusaha lagi untuk belajar mengikhlaskan sesuatu yang kuingin, namun untuk kali ini, hal ini adalah yang paling kudamba sejak dulu.
Kali ini aku belajar, bahwa tidak semua yang sangat kita inginkan bisa menjadi milik kita. Aku belajar bagaimana memaknai kekecewaan atas hal yang paling kuinginkan. Terlalu banyak kata mengapa dalam otakku, dan sekali lagi aku mencoba membunuh semua pertanyaan dan pernyataan di otakku.
Sempat terlintas dibenakku, mengapa dulu di alam rahim aku menyetujui perjanjianku dengan Rabb untuk menjalani hidupku yang seperti ini? namun aku merasa menjadi manusia paling hina dengan memikirkan itu. Ingin rasanya aku memberontak kepada Rabb dan menanyakan ada apa dibalik semua ini? Namun, aku merasa menjadi manusia paling sia-sia dengan memikirkan itu.
Aku benar-benar berada dititik puncak dari kelelahan hidupku. Aku benar-benar merasa harus pasrah atas apapun yang akan terjadi kedepan. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku tak mampu mengutarakan lagi isi hatiku kepada siapapun. Aku tak dapat menemukan kata-kata apapun untuk berdoa kepada Rabb..
Aku lelah..
Inilah alasan mengapa disaat aku berharap hatiku terasa nyeri tak tertahankan. Aku tak berani untuk berharap lagi. Aku takut untuk berharap.
Disaat aku mencoba membangun kembali harapan dan perlahan harapan itu akan menusukku dari belakang. Hatiku meringis kesakitan.
Mulai saat ini aku hanya akan membiarkan setiap detik berikutnya menjadi sebuah kejutan. Aku tak ingin berharap lebih dari apapun. Aku hanya takut ketika aku berharap kembali, saat itu juga mereka menamparku dengan kekecewaan..